Wednesday, April 30, 2014

Grasberg Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya

Grasberg Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya
Kami Jual buku Langka Grasberg Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya Pada Endapan yang Terpencil di Dunia.

Kondisi Baik, Bekas
Rp 1,250,000

Buku yang menceritakan secara gamblang betapa melimpahnya sumber daya alam di Papua terutama tembaga yang mengkilau (emas) yang di kelola oleh PT. Freeport. Sehingga PT. Freeport menjadi salah satu perusahaan terbesar di Dunia dalam hal pertambangan. Pada tahun 1972, pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto, pertama kali menghasilkan konsentrat dari Ertsberg di kapalkan.

George A. Mealey adalah seorang insinyur pertambangan yang merintis dan menyelesaikan karirnya sebagai penambang. Diawali dengan proyek penambangan tembaga di Cili, Amerika Serikat. Setelah perjalanan panjang karirnya di penambangan tembaga, akhirnya muncul tawaran dari Milt Ward, salah seorang wakil presiden direktur Freeport Minerals (semula Freeport Sulphur) untuk bergabung di proyek penambangan emas di Indonesia. Tawaran tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan memecahkan permasalahan operasi tambang yang sedang berjalan. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya George menerima tawaran Milt. Sejak tahun 1972 PT. Freeport Indonesia memulai penambangan di Ertsberg. Hingga akhirnya ditemukan lokasi lain yang jauh lebih potensial yang awalnya tidak pernah diduga akan menghasilkan berlimpah hasil tambang. Grasberg, adalah sebuah gunung yang letaknya bersebelahan dengan Ertsberg. Sejak tahun 1988 akhirnya PT. Freeport Indonesia memindahkan proyeknya ke Grasberg karena memiliki cadangan yang lebih besar. Grasberg memiliki ketinggian 3600 meter dari atas permukaan laut. Grasberg memiliki sekitar 970 juta ton cadangan bawah tanah dengan kadar tembaga 1,09 persen dan emas 0,87 gram per ton. Cadangan yang dimiliki oleh Grasberg akan diambil pada elevasi 2.815 di atas permukaan laut, dan 75 persen kontribusi Grasberg diperoleh dari tambang terbuka, sementara 25 persen sisanya diperoleh dari tambang bawah tanah.

Di ketinggian 2650 meter pada kedalaman maksimum yang dapat dicapai oleh alat bor, terdapat endapan yang cukup berharga. Mineralisasi tembaga yang terdapat dalam kalkoporit ditemukan juga dalam bomit. Di ketinggian 3550 meter dan 3350 meter terdapat bagian dengan kandungan tembaga dan emas yang paling kaya. Meski alat bor hanya dapat mencapai ketinggian 2650 meter, namun diduga endapan Grasberg masih menyimpan kekayaannya hingga entah kedalaman berapa.

George Mealey melalui buku ini menyampaikan kepada pembaca seberapa berharganya Grasberg baik bagi PT. Freeport Indonesia maupun bagi negara Indonesia sendiri. Grasberg masih menyimpan misteri kekayaannya dan hal tersebut perlu pengembangan. Cadangan bijih tembaga dan emas yang dimiliki oleh Grasberg diperkirakan masih membutuhkan waktu empat dekade untuk mencapai titik pusatnya. Bangsa Indonesia melalui PT. Freeport Indonesia harus semakin cermat dalam memanfaatkan sumber daya alam pertambangan di Grasberg.

Dari penuturan George Mealey mengenai Grasberg, saya semakin sadar bahwa Indonesia memang negara yang sangat kaya akan sumber daya alam namun belum maksimal dalam pengembangan sumber daya manusia untuk mengolahnya. Akibatnya perlu bantuan negara lain untuk mengelola kekayaan negara kita sendiri. Penambang yang memang tertarik pada Grasberg diharapkan dapat menggali lebih dalam potensi yang dimiliki oleh lokasi tersebut.

No comments :

Post a Comment